Jumat, 22 Mei 2015

Reservoir dengan Penilaian Formasi

KAITAN RESERVOIR DENGAN
DATA PENILAIAN FORMASI

Dalam dunia perminyakan, reservoar merupakan lapisan batuan yang berada dibawah permukaan bumi tempat terakumulasinya minyak. Suatu reservoar hidrokarbon memiliki karakteristik sifat fisik batuan dan fluida reservoar serta komposisi kimia dan kondisi reservoar tertentu. Dari studi mengenai karakteristik reservoar, akan diperoleh segala informasi yang berkaitan mengenai reservoar termasuk juga memperkiraan besar cadangan mula-mula.  
Setelah gambaran awal mengenai keadaan reservoar diperoleh, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pemboran eksplorasi untuk membuktikan data awal yang telah didapat sebelumnya. Dalam penentuan titik awal pemboran dapat dilakukan dengan dasar prediksi adanya daerah jebakan hidrokarbon dan struktur bawah permukaan yang diperoleh dari kegiatan seismik. Melalui pemboran eksplorasi ini, akan diperoleh data-data yang lebih riil dan rinci dari keadaan formasi yang sebenarnya.
Pengumpulan data pada saat operasi pemboran eksplorasi meliputi : metode drilling log, metode analisa inti batuan dan metode log sumuran (wireline well logging). Pada metode drilling log terdapat beberapa informasi yang kita dapat yaitu tipe batuan (lithologi) dan kondisi selama pemboran.. Selanjutnya adalah sample log (analisa cutting) yang digunakan untuk analisa lithologi serta kenampakan hidrokarbon. Pengukuran data sifat fisik batuan reservoar yang meliputi data porositas, permeabilitas, saturasi, tekanan kapiler, wettabilitas dan kompressibilitas batuan dilakukan dengan analisa inti batuan. Secara umum analisa inti batuan akan memberikan data yang lebih akurat, karena pengukuran sifat fisik batuan dilakukan secara langsung terhadap contoh batuan yang diperoleh (core). Namun besarnya biaya operasi dan waktu yang dibutuhkan untuk pengambilan core menjadi suatu kendala tersendiri, sehingga pengambilan inti batuan tidak dapat dilakukan disepanjang kedalaman pemboran. Disamping itu inti batuan yang diangkat kepermukaan akan ter-flushing oleh lumpur atau air filtrat sehingga akan mengalami perubahan fraksi penyusun batuannya.
Berdasarkan pengukurannya, logging sendiri dibedakan menjadi log listrik, log radioaktif, log suara dan log tambahan. SP log dan resistivity log yang merupakan bagian dari log listrik ini, mampu memberikan hasil rekaman secara grafis terhadap fungsi kedalaman dengan satu atau lebih sifat-sifat fisik dari formasi yang ditembus oleh lubang bor. Lebih jelasnya informasi yang diperoleh melalui kedua log ini antara lain : harga tahanan air formasi (Rw), tahanan invasi (Ri), tahanan formasi flushed zone (Rxo), tahanan formasi sebenarnya (Rt), ketebalan lapisan porous, korelasi batuan dan evaluasi Vclay. Sementara itu Gamma-ray log, neutron log dan densitas log merupakan log radioaktif. Pada log Gamma-ray mampu mendeteksi adanya kandungan radioaktif didalam formasi sehingga dapat diketahui besarnya kandungan shale atau clay (Vclay) di dalam lapisan permeabel. Demikian juga dengan neutron log dan density log, keduanya berfungsi untuk mendeteksi adanya hidrokarbon dan air dalam formasi, mengetahui besarnya porositas formasi batuan, menentukan harga saturasi yang didukung dari data-data log sebelumnya yang pada akhirnya dapat digunakan untuk menentukan permeabilitas. Untuk log suara digunakan untuk perhitungan transit time yang berpengaruh terhadap perhitungan porositas. Log tambahan yang umum digunakan sebagai pelengkap data yang telah ada antara lain caliper log untuk estimasi mud cake, dipmeter log untuk pengukuran arah dan kemiringan formasi dan temperatur log untuk memperoleh data temperatur reservoar. Pada logging sumuran interpretasi log digunakan untuk : identifikasi lapisan permeabel, ketebalan dan batas lapisan, lithologi dan gas, minyak dan air, evaluasi shalliness (analisa kualitatif). Harga porositas, tahanan jenis air formasi, tahanan air formasi, saturasi air, permeabilitas (analisa kuantitatif). Pemilihan kombinasi logging yang tepat juga sangat mendukung keakuratan data yang diperoleh selama operasi logging, namun ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam memilih kombinasi logging yang tepat, yaitu : faktor fluida pemboran, batuan formasi (reservoar) dan kondisi lubang bor.

Pengumpulan data setelah operasi pemboran yang terdiri dari analisa fluida reservoir, adapun tujuan utamanya adalah menghitung faktor volume formasi minyak/gas awal.

a.                  Interpretasi Data-data Penilaian Formasi dalam Penenetuan Karakteristik Reservoar dan Subsurface Mapping
Berbagai data yang telah kita peroleh tersebut selanjutnya akan diolah dan dievaluasi terlebih dahulu dengan maksud untuk mendapatkan satu data yang representatif untuk mewakili keadaan reservoir yang sebenarnya. Metode yang digunakan untuk pengolahan data-data tersebut yaitu metode cut-off, metode statistik rata-rata dan analisa korelasi dan regresi.
Pada awalnya untuk memperoleh suatu data yang representatif untuk sebuah parameter tertentu maka dilakukan pengolahan data dengan menggunakan metoda cut-off. Metoda ini akan membuang sejumlah data yang nilainya dianggap jauh dari analisa data sebelumnya sehingga hanya akan diperoleh suatu range tertentu yang pada akhirnya nanti akan diolah kembali untuk mendapatkan yang benar-benar representatif. Umumnya penentuan suatu harga kisaran dari parameter reservoar yang di cut-off telah menjadi kesepakatan dari suatu perusahaan yang bersangkutan. Parameter reservoar yang umumnya dilakukan cut-off adalah porositas, permeabilitas, saturasi dan Vclay. Setelah diperoleh suatu harga parameter-parameter reservoar dengan kisaran tertentu langkah selanjutnya adalah mengolahnya dengan metode statistik yang meliputi statistik rata-rata dan analisa korelasi-regresi. Dalam metode statisik rata-rata untuk suatu parameter dengan jumlah perolehan data yang besar, maka perlu dilakukan klasifikasi data dalam bentuk interval klas, yang pada akhirnya akan dihasilkan suatu data yang dapat mewakili harga parameter yang diukur. Sementara itu untuk analisa korelasi-regresi kita melakukan suatu perbandingan terhadap data tertentu yang telah diperoleh dari dua metode (sebagai variabel) yang berbeda untuk kemudian dapat dijelaskan bahwa kedua variabel tersebut mempunyai hubungan yang signifikan. Umumnya dilakukan pada data porositas dan saturasi untuk metode coring dan log sumuran
Karakteristik reservoar meliputi jenis reservoar dan tenaga pendorong yang bekerja pada reservoar tersebut, model geologi, model batuan reservoar dan fluida reservoar. Adapun data-data yang diperoleh berasal dari penilaian formasi (well logs, core analysis, analisa fluida reservoar).
Dalam perkembangannya distribusi keseluruhan data-data penilaian formasi tersebut dapat disajikan dalam bentuk peta-peta yang tergambar dalam peta isopach, peta net sand, peta net pay oil/gas, peta isoporositas, peta isosaturasi dan peta isopermeabilitas. Penggunaan subsurface mapping dalam hal ini peta struktur, isopach map, isoporositas, isopermeabilitas, isosaturasi dan isopach net oil/gas pay adalah untuk menentukan total volume batuan (Vb), distribusi porositas, permeabilitas, saturasi dan ketebalan bersih lapisan produktif. Adapun metode yang digunakan dalam menghitung besar Vb antara lain : metode analitis dan metode grafik.

b.                  Aplikasi Interpretasi Data Penilaian Formasi Dalam Perhitugan Cadangan Reservoar Secara Volumetris
Seperti diketahui bahwa cadangan minyak mempunyai dua pengertian, yaitu cadangan yang terhitung dan nyata terdapat didalam reservoir yang disebut Oil in place serta cadangan yang mempunyai nilai ekonomis dalam arti dapat diproduksikan secara ekonomis, yang disebut Ultimate Recovery. Perbandingan antara Ultimate Recovery dengan Initial Oil In Place disebut Recovery Factor.
            Berdasarkan metode volumetris, besarnya Initial Oil In Place (IOIP) dapat ditentukan apabila data total batuan (bulk volume), porositas efektif, saturasi air , dan faktor volume minyak/gas telah diketahui. Yang perlu diketahui dalam penentuan IOIP ini adalah penentuan total batuan Vb (peta isopach dan peta struktur bawah permukaan). Kedua peta ini dibuat dari hasil seismik, data pemboran, analisa core, ataupun logging. Oleh karena itu aplikasi data hasil interpretasi data-data penilaian formasi akan sangat membantu didalam ketepatan perhitungan bulk volume, yang mana hal ini akan mempengaruhi pula pada ketelitian perkiraan besarnya IOIP.
            Recovery factor adalah persen atau fraksi minyak yang dapat diproduksikan dalam tanki pengumpul, dan merupakan perbandingan antara UR dan IOIP. Ketelitian dari pengukuran UR dan IOIP akan sangaat membantu dalam memperkirakan berapa persen minyak yang dapat diproduksikan dalam tanki pengumpul, sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk pengembangan lapangan minyak.


1 komentar:

  1. Terima kasih atas sharing dan tulisanya, sangat membantu sekali.
    Salam suksess.......

    BalasHapus