Jumat, 22 Mei 2015

Perencanaan Gas Lift

KAITAN RESERVOIR DENGAN
PERENCANAAN GAS LIFT


Resevoir berlapis didefinisikan sebagai reservoir yang mempunyai dua atau lebih lapisan produktif dengan perbedaan permeabilitas antara satu lapisan dengan lapisan yang lain sebagai batasannya. Karena terdapat beberapa lapisan produktif dalam suatu sumur, dimana antara lapisan satu dengan yang lainnya mempunyai distribusi permeabilitas yang berbeda sebagai batasannya walaupun demikian masing-masing dianggap homogen.
Dalam distribusi permeabilitas yang berbeda-beda, resevoir berlapis dapat diklarifikasikan dalam heterogenitas secara vertikal yang akan memberikan harga produksifitas yang berbeda pula tiap-tiap lapisan produktifnya .
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini :  
·         Sifat Fisik Batuan Resevoar, meliputi: Porositas, Wettabilitas, Tekanan Kapiler, Saturasi Fluida, Permeabilitas, dan Kompresibilitas.
·         Sifat Fisik Fluida Resevoar, meliputi: Vikositas, Faktor Volume Formasi Fluida, Kompresibilitas Fluida, dan Kelarutan Gas dalam Minyak
·         Kondisi Reservoir, meliputi: Tekanan dan Tempetatur Resevoir.
·         Jarak antara Lapisan Produktif, merupakan jarak antara daerah yang mengandung hidrokarbon.

Untuk mengetahui besarnya distribusi fluida tiap-tiap lapisan diperlukan alokasi produksi dengan melalui dua metode yaitu :

1.                  Metode Kapasitas Aliran
Metode ini didasarkan pada besarnya harga kapasitas aliran (kh). Pada metode ini besarnya kontribusi aliran tiap lapisan dapat dicari dengan berdasarkan permeabilitas dan ketebalan masing-masing lapisannya (kh).
Alokasi produksi dengan metode ini hanya dapat untuk mengetahui besarnya kontribusi aliran fluida (minyak dan air).
Adapun anggapan-anggapan yang dipakai sebagai berikut :
a)      Fluida yang mengalir dalam setiap lapisan memiliki viskositas (μ) yang sama.
b)      Penurunan tekanan pada setiap lapisan sama.
c)      Fluida mengalir dari jarak radius yang sama (resevoir radial).
d)     Besarnya skin di sekitar lubang bor adalah sama .

2.                  Metode PLT (Production Logging Tool)
Metode ini didasarkan pada hasil interpretasi teknik Production Logging.. Dimana informasi yang dihasilkan dari hasil interpretasi pelaksanaan logging ini adalah besarnya kontrobusi aliran dan besarnya kadar air masing-masing lapisan.
·         Flow Contributions (Kontribusi Aliran)
Kontribusi aliran dapat diketahui dari pencatatan alat Spinner Flowmeter yang terdapat pada rangkaian peralatan production logging. Di dalam alat ini terdapat impeller atau spinner yang berfungsi untuk mengukur kecepatan aliran fluida sumur
·         Kadar air (Water Cut)
Besarnya kadar air diperoleh dari perekaman alat fluid density. Besarnya kadar air dapat ditentukan dengan pertimbangan adanya perbedaan berat jenis (density) antar minyak dan air.

Perencanaan Gas lift
Gas lift merupakan salah satu metode dari artificial lift untuk memproduksikan hidrokarbon dari sumur dimana tekanan resevoir tidak cukup besar untuk mengangkat fluida sampai permukaan.
Dengan menginjeksikan sejumlah gas kedalam sumur melalui tubing, injeksi gas akan bercampur dengan fluida dan meringankan densitas fluida sehingga tekanan formasi dapat mengangkat kolom minyak.
            Dasar dari perencanaan gas lift adalah menentukan Pwf yang diperlukan supaya sumur dapat berproduksi dengan rate yang diinginkan, yaitu dengan cara menginjeksikan gas pada kedalaman tertentu di dalam tubing.
            Fluida terangkat dari dasar sumur ke permukaan karena:
1.      Dorongan dari gas bertekanan tinggi melalui katup gas lift .
2.      Fluida dalam tubing (Di atas katup operasi) menjadi lebih ringan karena densitasnya lebih rendah, viscositasnya lebih rendah, perbandingan antara gas dan cairan (GLR, GOR) lebih besar dibandingkan dengan fluida resevoir
3.      Pressure loss yang terjadi di dalam tubing menjadi lebih kecil, sehingga mengakibatkan adanya aliran dari dasar sumur ke permukaan .
Ada dua cara pengangkatan buatan dengan metode gas lift, yaitu pengijeksian  secara kontinyu (continuous flow gas lift) dan penginjeksian terputus-putus (intermittent flow gas lift).
Pada continuous gas lift digunakan untuk sumur yang mempunyai PI tinggi, dimana PI tinggi besarnya adalah > 0.5 B/D/psi dan tekanan statis dasar sumur tinggi yang berarti dapat mengangkat kolom cairan minimum 70% dari kedalaman sumur. Dengan Pl tinggi dan Ps tinggi maka ketinggian kolom fluida dalam tubing masih cukup tinggi dan Pl tinggi mempunyai laju produksi yang tinggi continuous gas lift digunakan pada sumur yang mempunyai Ps tinggi karena ketinggian fluida dalam tubing sampai 70% kedalaman sumur. Dan continous gas lift dapat digunakan pada GLR sampai dengan 2000scf/bbl.
            Untuk intermittent gas lift digunakan pada sumur yang mempunyai Pl rendah dan tekanan statik dasar sumur rendah. Tekanan statik dasar sumur rendah artinya kolom cairan yang terangkat kurang dari 70% sedangkan Pl rendah mempunyai besar < 0.5 B/D/psi. Pada sumur yang mempunyai Ps rendah maka ketinggian kolom fluida dalam tubing rendah dan pada Pl rendah laju produksi kecil jika dilakukan penginjeksian gas secara continous maka gas yang diinjeksikan akan percuma karena gas yang diinjeksikan tidak akan keluar lagi tanpa membawa fluida dalam tubing, maka dengan penginjeksian secara intermittent akan lebih cocok karena pada selan waktu penginjeksian gas, fluida dari resevoir akan mengisi kolom fluida yang sudah diangkat pada waktu penginjeksian. Pada GLR 2000-5000 scf/bbl, intermittent flow gas lift lebih effisien digunakan karena keluar sejalan dengan perputaran gas (injeksi gas ). 
Ada tiga jenis instalasi gas lift,yaitu :
1.   Instalasi Terbuka (Open Instalations).
2.   Instalasi Setengah Terbuka (Semi Closed Instalations)
3.   Instalasi Tertutup (Closed Instalations).
Optimasi Produksi Gas Lift diperlukan agar memperoleh laju produksi yang optimun dengan :
·         Optimasi gas lift dilakukan dengan cara melakukan perencanaan /desain gas lift untuk :
-          Penentuan kedalaman letak titik injeksi gas lift.
-          Volume gas injeksi
-          Spasi kedalaman katup-katup unlopading
·         Analisa Nodal
melakukan pemoplotan antara tubing intake dengan harga GLR tertentu versus kurva IPR. Untuk tiap laju produksi terdapat batas dari GLR yang menghasilkan harga Pwf minimum. Intersection kurva IPR adalah optimum perfomance gas lift dari minimum pwf .
·         (GLR) optimum
GLR total yang optimum (batas) yaitu harga dimana penambahan injeksi gas lebih lanjut akan menurunkan laju produksi. Hal ini disebabkan karena pengaruh naiknya gradient tekanan akibat gesekan, naiknya harga ini dikarenakan kecepatan air semakin besar, akibatnya gesekan denagan tubing menjadi semakin besar pula yang ahkirnya mengakibatkan pressure loss yang terjadi juga semakin besar dan menyebabkan berkurangnya laju aliran


Tidak ada komentar:

Posting Komentar